Ada kalanya sejarah diuji, bukan dengan hilangnya jasa, tetapi dengan berkurangnya ruang untuk menyebutnya. Namun sejarah yang dibangun dengan keikhlasan tidak akan pernah hilang hanya karena tidak disebut dalam sebuah kesempatan.
KHR. Achmad Fawaid As’ad telah menorehkan jejak perjuangan yang tidak sedikit. Apa yang beliau wariskan bukan sekadar nama, melainkan nilai, keteladanan, dan semangat pengabdian kepada agama, umat, dan bangsa.
Boleh jadi ada yang memilih untuk tidak menyebut beliau. Itu adalah hak setiap orang. Namun jasa yang telah diberikan tetap menjadi bagian dari perjalanan sejarah yang tidak dapat dihapus oleh waktu maupun oleh sikap siapa pun.
Tradisi pesantren mengajarkan bahwa menghormati para ulama tidak harus dilakukan dengan mengurangi penghormatan kepada ulama lainnya. Justru semakin luas penghormatan kita kepada para pewaris nabi, semakin tampak keluasan adab dan kebesaran hati kita.
Karena itu, mengenang KHR. Achmad Fawaid As’ad bukanlah tentang mencari pengakuan, melainkan menjaga amanah sejarah agar generasi berikutnya memahami siapa saja yang telah berjuang untuk mereka.
Ruhul jihad KHR. Achmad Fawaid As’ad akan terus hidup dalam jiwa para penerusnya. Sebab perjuangan yang lahir dari keikhlasan tidak bergantung pada tepuk tangan, tidak pula pada seberapa sering nama disebut. Ia hidup dalam amal, dalam kaderisasi, dan dalam setiap langkah yang meneruskan cita-citanya.
“Terrossaghi perjuanganna sengkok.”
Perjuangan beliau akan terus kami lanjutkan, dengan cara yang santun, penuh adab, dan tetap menghormati seluruh ulama.
“Menghormati semua ulama tidak akan mengurangi kemuliaan siapa pun. Sebaliknya, adab kepada para ulama adalah cermin keluasan ilmu dan kebersihan hati.”
