Oleh: Arik Irawan Ketua PSR IKSASS Situbondo Timur Periode XVI Tahun 21/22
Di tengah perubahan sosial yang begitu cepat, organisasi berbasis pesantren memiliki tantangan besar untuk tetap relevan tanpa kehilangan nilai-nilai dasar yang telah menjadi ruh perjuangannya. Salah satu organisasi yang mampu menjaga keseimbangan itu adalah IKSASS (Ikatan Santri dan Alumni Salafiyah Syafi’iyah). Lebih dari sekadar wadah silaturahmi alumni, IKSASS telah menjelma menjadi kekuatan sosial yang hidup, adaptif, dan berpengaruh.
Sebagai organisasi yang berakar dari tradisi pesantren, IKSASS membawa warisan nilai yang tidak ternilai: keikhlasan, kesederhanaan, tawadhu’, dan kebersamaan. Nilai-nilai inilah yang menjadikan santri tidak hanya kuat secara spiritual, tetapi juga mampu berdiri tegak menghadapi dinamika masyarakat modern. IKSASS kemudian menjadi ruang di mana nilai-nilai tersebut dirawat, diperkuat, dan diterjemahkan menjadi amal sosial yang nyata.
Di era digital yang penuh hiruk pikuk ini, keberadaan IKSASS menjadi sangat signifikan. Banyak organisasi kehilangan arah ketika berhadapan dengan perkembangan teknologi atau budaya populer yang bergerak cepat. Namun IKSASS justru mampu menjadikannya sebagai peluang. Melalui kegiatan edukasi, dakwah, sosial, hingga program pemberdayaan, IKSASS menunjukkan bahwa alumni pesantren tidak hanya melek tradisi, tetapi juga mampu berkontribusi di ruang-ruang baru yang lebih dinamis.
Lebih jauh, IKSASS menjadi bukti bahwa kekuatan organisasi alumni tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak anggotanya, tetapi oleh seberapa kuat nilai yang mereka pegang. Kesadaran kolektif untuk terus mengabdi kepada masyarakat adalah modal paling berharga yang dimiliki IKSASS. Di banyak daerah, alumni bergerak secara mandiri menggelar bakti sosial, memperluas jaringan pengabdian, menghadirkan edukasi agama yang menyejukkan, sekaligus menjaga marwah pesantren sebagai pusat keilmuan yang moderat.
Namun tantangan ke depan tidak mudah. Masyarakat semakin kompleks, isu semakin beragam, dan kebutuhan publik semakin besar. Di sinilah peran IKSASS semakin dibutuhkan—sebagai penjaga nilai sekaligus motor gerakan sosial yang visioner. Dengan memperkuat kaderisasi, memperluas jaringan, dan memaksimalkan potensi alumni, IKSASS berpeluang menjadi salah satu organisasi keagamaan berbasis alumni yang paling berpengaruh di Indonesia.
Pada akhirnya, IKSASS adalah gambaran bahwa pesantren bukan hanya tempat belajar, tetapi juga pabrik nilai dan pusat peradaban. Dan alumni, melalui IKSASS, adalah jembatan yang memastikan nilai-nilai itu tidak berhenti di bangku pengajian, tetapi hadir menjadi cahaya di tengah masyarakat.
Jika konsistensi ini terus dijaga, maka IKSASS tidak hanya akan melahirkan generasi alumni yang berakhlak dan berilmu, tetapi juga pemimpin masa depan yang mampu membawa kemaslahatan bagi negeri.
